Ada 2 alasan yang membuat TEKKEN istimewa.
1. Nostalgia buat para mantan pemain game TEKKEN
2. Christine Montero yang sexy
Selain dari kedua hal diatas, rasanya TEKKEN cuma film action biasa yang mengumbar kostum-kostum sexy.
Setting dan plot cerita cukup bagus, tapi jalan cerita bisa dibilang standar, untuk wow factor saya masih lebih bagusan Jean Claude Van Damme’s Bloodsport dibanding dengan TEKKEN.
Film ini lebih cocok ditujukan pada para mantan pemain game TEKKEN. Nostalgia, Walau memang akan menemui beberapa kekecewaan.
- Martial Law jauh dari yang dibayangkan (terkesan gendut dan lamban, ngga ada gaya Bruce Lee yang menjadi ciri khan Law.
padahal ini jagoan gw nih) - Steve Fox terlalu krempeng dan tua (bukannya seharusnya Steve Fox itu anak dari Nina William?!?)
- Nina William … oh my! too bitchy. More like a whore rather than an assasin.:(
- Raven terkesan kayak om-om. Megang senjatanya kayak amatiran.
- Jurus-jurusnya … ngga mirip dengan game.
Bikin film memang ngga gampang, tapi untuk ukuran Hollywood, akting para pemainnya terasa dangkal sehingga buat saya sendiri beberapa percakapan terasa seperti sinetron indonesia.
Pointless unnecessary sex scene (between Kazuya, Anna & Nina) is a bit annoying, ngga cocok. Lagian, apa-apaan lagih … Nina, Anna & Kazuya begituan.
ada di gamenya ah
Cuma untungnya ada Christie Monteiro (Kelly Overton) with sexy outfit. Jadi, rada betah lah nontonnya. Walaupun Anda penggemar TEKKEN, tidak akan terlalu dipuaskan dengan menonton film ini. Jadi, overall … ini cuma film biasa. So, my rating for this is 2.5 of 5




