Code is poetry

Archive for the ‘Taufiq Ismail’ Category

Taufiq Ismail: Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya

“Tadi siang ada yang mati, Dan yang mengatar banyak sekali Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus! Sampai bensin juga turun harganya Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula Mereka kehausan dalam panas bukan main Terbakar mukanya diatas truk terbuka Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu Biarlah [...]

Taufiq Ismail: Yang Selalu Terapung di Atas Gelombang

Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1998. Seseorang dianggap tak bersalah, sampai dia dibuktikan hukum bersalah. Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah. Kini simaklah sebuah kisah, Seorang pegawai tinggi, gajinya sebulan satu setengah juta rupiah, Di garasinya ada Honda metalik,Volvo hitam, BMW abu-abu, Porsche biru dan Mercedes merah. Anaknya sekolah di [...]

Taufiq Ismail: Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Menjawab Menjawab Pertanyaan Cucumu

Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1998. Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu Bersama beberapa ribu kawanmu Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju Bersama-sama membuka sejarah halaman satu Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru Dikejar [...]

Taufiq Ismail: Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis, Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Masa Penjajahan Baru, Kata si Toni

Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1998. Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami Sejak lahir sampai dewasa ini Jadi sangat tepergantung pada budaya Meminjam uang ke mancanegara Sudah satu keturunan jangka waktunya Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula Lubang itu digali [...]

Taufiq Ismail: Bayi Lahir Bulan Mei 1998

Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1998. Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga Suaranya keras, menangis berhiba-hiba Begitu lahir ditating tangan bidannya Belum kering darah dan air ketubannya Langsung dia memikul hutang di bahunya Rupiah sepuluh juta Kalau dia jadi petani di desa Dia akan mensubsidi harga beras orang kota Kalau [...]

Taufiq Ismail: Jam Kota

Pada hari ulangtahunku, kukitari kota kelahiranku Setelah sebelas tahun tak menatap wajahmu Pohon-pohon akasia pada tujuh bukit yang biru Sekolah lama, gang-gang dipasar, batang-batang kenari Dijauhan jam kota menjuang tinggi Kotaku yang nanar sehabis perang Wajah muram dan tubuh luka garang Detak tapal kuda satu-satu Wahai, pandanglah mukaku! Bioskop tua. Dindingnya pun retak-retak Tempatku dulu [...]

Taufiq Ismail: Seorang Gembala Bernama Abu Hadajat

Pada malam ini kita berkumpul kembali, anak-istreriku Pada kesempatan begini baik dan jarang kita temukan Keluarga kita didusun Margamah ditepi bukit-bukit batu Diselatan kita, pasir berpadang menggelombang Kita yang hidup dibawah matahari sepanjang tahun Dalam panas yang membakar dan membara Jauh dari warna-warna hijau, sepi dari warna-warna daun Dari deru air terjun dan beningnya telaga [...]

Taufiq Ismail: Alma mater

Gaudeamus igitur Juvenes dum sumus … (Let us rejoice therefore, While we are young.) Didepan gerbangmu tua pada hari ini Kami menjilangkan tangan kedada kiri Tegak dan tengadah menatap bangunanmu Genteng hitam, dinding kusam berlumut waktu Untuk terakhir kali Marilah kita kenangkan tahun-tahun dulu Hari-hari kuliah diruang fisika Mengantuk pada pagi cericit burung gereja Praktikum. [...]

Taufiq Ismail: Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu

Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, yang dikutip dari Don KISOT. Puisi yang kental dengan suasana reformasi, 1998. Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu Bersama beberapa ribu kawanmu Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju Bersama-sama membuka sejarah halaman satu Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru Seraya mencat spanduk dengan teks [...]

Taufiq Ismail: Tuhan Sembilan Senti

Saya suka puisi-puisi Taufiq Ismail. Banyak puisi-puisinya ditulis dengan kata-kata yang lugas, sehingga mudah dimengerti, memiliki tujuan yang jelas, tapi tetap memiliki estetika. Puisi yang satu ini juga, KEREN. Didapat dalam salah satu post di blog harry sufehmi. Tuhan Sembilan Senti Oleh Taufiq Ismail Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa [...]

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.