Fact or HOAX

Saya teringat ketika pertama kali saya berkenalan dengan internet. Kalau pas ada teman yang sama-sama punya e-mail, biasa deh, saling FORWARD e-mail itu biasa.

Lumayan juga sih, koleksi FORWARD email-email yang “lucu”, cerita menarik, jokes, artikel, … tapi kadang juga mendapat informasi menarik. Beberapa berita itu biasa-biasa saja, tapi ada juga yang bikin paranoid, misal karena ternyata produk yang sering saya gunakan itu bisa jadi biang penyakit.

Setelah membaca artikel tentang HOAX, belakangan saya mulai ngeuh, ternyata tidak semua yang dulu saya baca itu adalah benar. Ada berita yang disebuat HOAX, cerita atau berita bohong atau palsu. Ternyata … ada juga orang yang segitu isengnya membuat cerita-cerita karangan (HOAX) semacam itu.

Begitu juga dengan beberapa cerita kesaksian, tentang pertobatan seseorang. Saya mulai berpikir … mungkin sebagian besar diantaranya juga adalah HOAX.

Bukan saja lewat email, tapi juga berita-berita yang sering muncul di Bulletin Board FRIENDSTER. MUNGKIN saja dari antara semua berita itu ada yang benar tapi … perlu juga pake common sense, jangan lansung percaya. Jadi, sekarang coba lebih waspada dengan informasi-informasi yang saya terima lewat internet.

Buat orang-orang yang suka terima-terima forward e-mail semacam itu, saya sarankan Anda juga bisa membaca artikel Belajar membuat HOAX sendiri

Iklan

SPT Tahunan

buku petunjukNgurusin toko klontong ortu, mau ga mau harus belajar tentang perpajakan. 6 taun lebih kuliah Tehnik Informatika, blon pernah belajar yang ginian. Yah, apa boleh buat.

Ternyata, menjadi warga negara yang baik itu tidak gampang. Untuk mau bayar pajak, saya terpaksa harus belajar juga perpajakan. :p Harus baca buku Petunjuk Pengisian SPT Tahunan. Bukunya sih ngga tebel, tapi isinya itu lho, berisi kata-kata yang buat saya sendiri sangat sulit untuk dipahami. Rasanya agak tidak mungkin kalau orang awam bisa mengisi SPT TAHUNAN nya hanya dengan bermodalkan buku petunjuk ini saja.

Saya sendiri waktu pertama kali belajar untuk mengisi form SPT, saya harus tanya-tanya ke orang pajak. Ilmu nya itu cuma dipake setahun sekali, jadi tiap tahun, bulan maret … ya beginilah. Harus buka-buka buku lagi. Begitu juga, untuk teman-teman saya yang kerja di konsultan pajak. Bulan maret itu “bulan kerja keras”. 😀

Tentang pajak tahun ini … nilai PPh tidak kena pajak jumlahnya agak naik hampir 10x lipatnya. Jadi, sebenernya kalau rata-rata penghasilan dalam 1 tahun ini kurang lebih sama dengan tahun kemarin, di tahun pajak yang sekarang kemungkinan besar tidak ada kenaikan pajak, tidak ada PPh terhutang yang harus dibayar. Tapi … ya udah lah! kasian sama pemerintah daerah, dikit-dikit, SPP bulanannya naeikin aja deh. 😀

Beruntung untuk tahun ini semuanya sudah beres. Tidak bertemu dengan petugas pajak yang “iseng” korek-korek kesalahan. Sejak jaman perjanjian lama dulu, yang namanya pemungut cukai itu dibenci banyak orang.

Kamen Rider J & ZO

Kamen Rider J (1994) – Kamen Rider ZO (1993). Masing-masing berdurasi kurang lebih 40 menit.
Walau ceritanya beda, tapi alur ceritanya kedua film ini kurang lebih sama, yaitu menyelamatkan bumi dari kehancuran.
Ceritanya klasik banget, kalau dibandingkan dengan cerita Kamen Rider baru-baru lainnya, nonton Kamen Rider J & ZO akan menjadi 80 menit tontonan yang membosankan. Tapi …, yah dari pada tidak ada kerjaan sama sekali, kedua film ini bisa menjadi nostalgia buat para penggemar TOKUKATSU.

Entah kenapa, kok Kamen Rider J & ZO dibuat dengan kostum yang sama persis. Mmmm… kayak yang udah kehabisan ide aja …

Tilang

Sejak pertama kali saya punya SIM, 8 tahun lalu, kalau dihitung-hitung, sudah tujuh kali saya kena tilang.

Saya ingat sekali saat pertama kali saya kena tilang. Perkaranya soal kelengkapan kendaraan, yah gara-gara plat nomor belakang, 2 huruf dibelakangnya hilang (karena plat nomornya patah).
Yang namanya pertama kali, saya sendiri tidak tahu harus bagaimana. Yang saya tahu, polisi itu menawarkan jasa sidang ditempat (mirip Judge Dread :D). Saya sih … ikut saja. Tapi …, “sesuatu” terjadi, something embarresing, I don’t even want to talk about it. Jadinya, semenjak saat itu, saya BERTEKAD untuk tidak ikut lagi sidang ditempat. Continue reading “Tilang”