Tilang

Sejak pertama kali saya punya SIM, 8 tahun lalu, kalau dihitung-hitung, sudah tujuh kali saya kena tilang.

Saya ingat sekali saat pertama kali saya kena tilang. Perkaranya soal kelengkapan kendaraan, yah gara-gara plat nomor belakang, 2 huruf dibelakangnya hilang (karena plat nomornya patah).
Yang namanya pertama kali, saya sendiri tidak tahu harus bagaimana. Yang saya tahu, polisi itu menawarkan jasa sidang ditempat (mirip Judge Dread :D). Saya sih … ikut saja. Tapi …, “sesuatu” terjadi, something embarresing, I don’t even want to talk about it. Jadinya, semenjak saat itu, saya BERTEKAD untuk tidak ikut lagi sidang ditempat.

Kali kedua, nerobos lampu merah. Kali ini, walau pak polisi sudah menawarkan jasa, tetap minta tilang, langsung minta bayar tilang ke bank. Yah, memang agak sedikit repot. Harus ngatri cukup lama di bank, trus tebus surat ke kantor polisi. Tapi, setidaknya saya bisa belajar konsekuen dengan kesalahan yang saya buat, dan berusaha menjadi warga Indonesia yang baik (Ciieeeehhhh…! :D). Lagipula, kalau dilihat dari jumlah uang yang harus dibayar, relatif tidak terlalu jauh berbeda dengan yang dikatakan pak polisi, malah kadang bisa lebih kecil. πŸ˜€

Kali ketiga, sama … tidak terlalu masalah.

Kali keempat, entah gimana, pas ke bank. Setelah menunggu SANGAT LAMA. Pas nyampe didepan teller. Eh, si mba nya bilang kalau surat tilangnya ngga bener harus diurus ke kantor polisi. Yah … kepaksa deh ke kantor pulisi lagi.
Disana, baru masuk … seorang polisi, dengan ramah menawarkan jasa membantu menebus SIM.

Yah, mau bagaimana lagi. Saya berikan sejumlah uang … dan, beres. Kalau tahu jadinya seperti ini, mending dari awal deh, sidang ditempat.

Yang kelima dan keenam, saya tetap minta surat tilang. Tapi, setelah itu, tiba-tiba polisinya berbaik hati, dan melepaskan saya. Thank GOD!

Nah, tapi siang, kejadian tilang saya yang ketujuh. Kali ini saya lagi belanja di Bandung, STNK ketinggalan di Sumedang, alamak! Saya memang cukup sering lupa bawa STNK, tapi kali ini … bener2 sial. Kalau tidak ada STNK, motor ditahan. Berarti saya harus pulang ke Sumedang dengan kendaraan umum deh. Aiiihh…! Mana lagi, harus ke Bandung lagi buat nebus ke kantor polisi. 😦
Akhirnya … saya harus kompromi dengan prinsip saya. 😦 Tapi, sialnya saya cuma bawa duit sedikit sekali di dompet, soalnya habis belanja. 😦 Tadinya, kalau sampai si polisinya tidak mau …, saya sudah rela harus pulang dengan kendaraan umum. 😦
Tapi, yah mungkin pikirnya dari pada duitnya ngga masuk kantong dia, mending sedikit juga ngga apa2. Akhirnya SEPAKAT. Motornya tidak jadi ditahan, tapi saya harus pulang dengan dompet yang kosong :(. Malang.

Kadang … merasa bersalah dengan apa yang saya lakukan. O, forgive me Father, for I have sin. 😦

Iklan

2 pemikiran pada “Tilang

  1. Waduh Tay, jadi kesimpulan nya apa neh? Sidang di tempat yaQ, heheheh tapi klo dipikir yah drpd ditilang mending sidang di tempat knp? karena gwe udah pernah ditilang gara2 belok kiri langsung padahal kan peraturannya udah ada klo lampu merah belok kiri nya ga ada panah boleh lsg kan? Dah gwe males debat lagian polisinya sok galak gituh males dah jadi lah saya ditilang, ternyata setelah berdiskusi dengan Pa Apat kenal kan Tay? Nah dia bilang ngapain di tilang jadilah sim saya di urusnya
    ternyata tilangnya lebih mahal bokkkkk soalna kudu nebus lagi ke polisi yang laen dodol kan?
    Jadi critanya gwe teh lolos dr mulut buaya masuk ke mulut singa >.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s