Indonesian Idol 3 & My Hepatitis

Indonesian Idols 3 & My Hepatitis. Hah, 2 minggu ini … memang minggu-minggu yang mengejutkan. Tahun ajaran baru, hari pertama saya mengajar eh, badan meriang-meriang. Setelah diperiksa … ternyata kena hepatitis (mungkin Hepatitis A). Alhasil, Hampir 2 minggu terakhir ini saya, full … terkapar diatas ranjang. Apa yang terjadi selama 2 minggu ini?!?

Apa saja yang terjadi selama 2 minggu?!? Oh my, ternyata, Jumat 21 Juli lalu, Maria harus OUT! 😦 😦 yah … gimana neh! Ngga semangat deh jadinya. Ditambah lagi, Jumat lalu, 28 Juli, Nobo harus ikut keluar. 😦 :(. wah … bener-bener bikin bo-hoat. ngga pengen lagi deh nonton Idols.

Ihsan, Gea, dan Dirly. Bener-bener susunan diluar dugaan.

Dirly …. bener-bener wildcard. Ngga nyangka bisa sampe 3 besar. Kalau sampai para juri sering memberi kritik pedas kepada finalis yang satu ini. Emang sih, saya melihat dia memiliki beberapa attitude yang kurang sedang dipandang sebagai seorang Idol. Tapi, meskipun demikian, dari antara ketiga finalis yang ada, kalau saya harus memberikan dukungan, mungkin saya akan beri dukungan buat Dirly.

Why?!? Hmmm… buat saya, walau tidak mirip, suara seraknya selalu mengingatkan saya kepada Michael Bolton. 😀 he..he.. just my personal opinion.

Tapi meskipun demikian. Ihsan … juga bagus. Juga saya, sebagai warga Bandung … dukung Gea. 😀

Jadi siapapun pemenangnya nanti, Anda semua ada yang terbaik. (he..he.. jawaban standard).

Indonesian Idol 3 – Spectacular Show 6 – Ilham’s Last Performance

Maria Dirly Ilham Indonesian Idol 3 – Spectaculer Show 6 kemarin, 14 Juni 2006, adalah akhir perjalanan Ilham.

Ada 3 kontestan yang sejak pertama saya jagokan sejak pertama, yaitu Ilham, Maria, dan Dirly. Dan malam ini, ketiga-tiganya berada dalam posisi tidak aman. 😦 hiks … ironis sekali. Hal itu cukup mengejutkan saya. 😦

Sebenarnya, saya benar-benar berharap Ilham (setidaknya) bisa masuk 4 besar.

Saya senang dengan gaya Ilham bernyanyi. Cocok dengan my personal taste. Sayang, dia harus berhenti di 6 besar :(. kurang semangat deh jadinya. 😦

Tapi … ya udah lah, yang penting minggu depan, Maria ngga boleh pulang. Ajakan kepada seluruh mariamor, next week, vote for Maria, vote twice, vote more!

Indonesian Idol 3 – Spectacular Show 6 – Suci & Johny Return

SuciatyJohny

Indonesian Idol 3 – Spectacular Show 6, 14 Juli 2006, featuring Suci & Johny, pemenang Coba-Lagi-Award (begitulah sebutannya).

Saya teringat ucapan salah seorang dosen saya (ngga nyambung dengan mata kuliah yang diajarnya).

… ada dua cara masuk ke dalam bisnis hiburan, tampil bagus atau nekat.

Cukup masuk akal. Tidak semua pekerja seni memasuki pertama kali showbiz itu karena kelebihan yang dimilikinya, tapi ada juga karena keberuntungan dan modal nekat. Begitu juga dengan dua orang kontestan ini.

Dari mungkin 30.000 lebih orang yang mengikuti audisi Indonesian Idol 3 ini, mungkin 2 orang ini termasuk beruntung. Modal nekat + ngga tau malu (maaf); ikut audisi, dan akhirnya … berhasil memikat hati juri. Mereka cukup beruntung bisa tampil di babak spektakuler (dan juga di babak workshop lalu). Padahal tidak semua yang lulus audisi punya kesempatan ini.

Walau mungkin, kehadiran mereka hanya sebagai penggembira, nyanyi lagu ngga jelas apa :D, tapi setidaknya penampilan mereka dikenal orang, dibanding 12 orang kontestan lainnya yang tersisih dibabak workshop lalu. Kalau bicara soal fee, 2x muncul di TV, mungkin fee yang diterimanya juga lebih gede dibanding mereka yang tersisih di babak workshop. 😀
Jadi hanya sekedar tips bagi mereka yang berminat ikut Indonesian Idols 4 nanti.

Kalau tidak punya suara bagus, cobalah untuk tampil nekat.
who knows … 😀

Taufiq Ismail: Tuhan Sembilan Senti

Saya suka puisi-puisi Taufiq Ismail. Banyak puisi-puisinya ditulis dengan kata-kata yang lugas, sehingga mudah dimengerti, memiliki tujuan yang jelas, tapi tetap memiliki estetika.

Puisi yang satu ini juga, KEREN. Didapat dalam salah satu post di blog harry sufehmi.

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Home Alone 4

Home Alone 4Pada Senin 2 Juni 2006, di RCTI kembali diputar HOME ALONE 4. (Rating 2 of 5)
Saya teringat dulu, ketika saya masih duduk di bangku SMP, menyaksikan prequel dari film ini, HOME ALONE (1) bisa membuat saya tertawa terbahak-bahak.

Dua tahun kemudian muncul sequelnya, HOME ALONE 2 – Lost In New York. Tidak seheboh pendahulunya, cukuplah mengobati kerinduan.

HOME ALONE tanpa Macaulay Culkin rasanya bukan HOME ALONE. Terasa pada HOME ALONE 3. HOME ALONE 3 menampilkan keluarga Pruitt, dengan demikian, tokoh utamanya pun ganti. Alex Pruitt (Alex D. Linz) anak yang kelewat pinter (untuk bocah seumur itu), membuat saya sendiri merasa aneh dengan sequel ini. Tapi, sebagai film keluarga, HOME ALONE 3 cukup memberi hiburan.

Sequel ke-4, HOME ALONE 4. Cerita kembali ke keluarga McCallister. Tapi mungkin karena Macaulay Culkin sendiri dirasa terlalu besar untuk memerankan peran ini, kini Kevin McCallister diperankan oleh Mike Weinberg. It think it’s the worst HOME ALONE movie ever. Biasa yang menjadi ciri khan HOME ALONE adalah perangkap-perangkap yang dipasang di seisi rumah, tapi di HOME ALONE 4, hal semacam itu “nyaris” tidak ada. Seluruh rumah dikendalikan dengan remote control. 😦 apa-apaan ini?!?

Tampaknya pembuat HOME ALONE 4 ini tidak memperhatikan sekuel-sekuel sebelumnya. Sehingga memberikan banyak kejanggalan. Seperti misalnya 2 kakak Kevin, Buzz & Megan, yang tampak jauh lebih muda dari sequel pertama. Kemudian, pada HOME ALONE 1, Kevin berusia 8 tahun; pada HOME ALONE 2, Kevin berusia 10 tahun, sedang pada sekuel ini, diceritakan Kevin berumur 9 tahun. 😦 membingungkan.

Tampaknya HOME ALONE 4 ini digarap oleh tangan yang tidak tepat, sehingga terkesan asal-asalan. Lebih terkesan seperti drama ketimbang komedi. It’s definitly the worst HOME ALONE sequel, EVER!