Ada apa dengan “Guntur”?

Dalam beberapa hari ini, media cukup digegerkan dengan peristiwa tenggelamnya KMP Levina I. Bagaimana tidak, setelah terbakar di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara dan menewaskan 40 penumpang serta puluhan orang dilaporkan hilang, disusul dicopotnya jabatan Jhonny Lantang, Kepala Syahbandar Pelabuhan Tanjung Priok, kini Levina minta korban rombongan wartawan dan polisi di Muara Gembong, Bekasi, Minggu (25/2) siang, sesaat sebelum tenggelam (dikutip dari poskota.co.id).

Menjadi sorotan media dalam beberapa hari ini adalah peristiwa tenggelamnya KMP Levina I yang memakan 4 korban meninggal: Mochammad Guntur Syaifullah (kameramen SCTV), Suherman (kameramen LaTivi), AKBP Langgeng Widodo (anggota Puslabfor), dan Kompol Widiantoro (Puslabfor Mabes Polri).

Setelah jasad mereka ditemukan, kisah tentang Mochammad Guntur terus ditayangkan dihampir semua media televisi. Dimana-mana … acaranya sama, malah ada 1 episode infotainment bercerita tentang seorang Muhamad Guntur. Sedangkan 2 korban lain yang jasadnya ditemukan dalam saat yang hampir bersamaan liputannya ditayangkan kurang dari 5 menit.
Siapa Muhamad Guntur? kok sampe segitunya …

Bagi saya pribadi … Muhamad Guntur … mungkin hanya seorang kameramen, mungkin namanya pun tidak banyak diperhatikan saat sesekali muncul di-ending credits Liputan 6. Tapi bagi bagi sesama rekan kerja mereka, saya yakin bahwa bagi mereka, ia bukanlah (hanya) seorang kameramen, ia adalah teman. Bukan pemandangan yang bisa disaksikan setiap hari, melihat para anchorman SCTV yang biasa serius, kini pasang muka muram atas meninggalnya teman mereka.

Tapi … saya rasa ada baiknya kalau pihak media bisa lebih “adil” dalam pemberitaan. Rasanya tidak fair untuk korban lainnya, berbedaan bobot pemberitaan yang terlalu jauh menjadikan kematian 3 rekan lainnya sepertinya “kurang berarti” banding ‘dia’. Jadi … ada baiknya media bisa bersikap lebih objektif dalam hal ini.

3 pemikiran pada “Ada apa dengan “Guntur”?

  1. Ada satu lagi yg rasanya juga mengganjal. Berita soal kecelakaan pesawat (yg penumpangnya notabene orang berpunya) lebih banyak di blow-up ketimbang kecelakaan kapal laut (yg penumpangya rata2 orang ‘kebanyakan’ yg gak mampu beli tiket pesawat. Ya, dunia kadang2 memang tidak adil.

  2. maaf…kami rasa kami cukup adil dengan memberitakan korban lain sesuai dengan porsinya, akan tetapi tentang sahabat kami, kami ingin memberikan penghargaan atau pun penghormatan kepada beliau dan keluarganya.
    kalo pun tv lain menayangkan gugurnya sahabar kami lebih dari korban lain, kami kurang tau alasannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s