Lelet pisan

lagi-lagi, seminggu ini … Telkomsel Flash lelet pisan!!! 😦
cuma bisa dipake chat doang 😦

Iklan

Review: Setelah 3 bulan penggunaan Telkomsel Flash

Bulan ini adalah bulan ketiga saya menggunakan Telkomsel Flash, paket BASIC. Awalnya, saya berharap Telkomsel Flash ini bisa menggantikan Telkomspeedy saya. Tapi, … tampaknya tidak. Memang, ada kalanya Telkomsel Flash ini bagus. Tapi, tidak kalah seringnya juga, jaringan Telkomsel Flash ini menjadi sangat lambat. Kadang, mau konek saja susahnya minta ampun. Kalau lagi sulit, duh … bener-bener bikin bete deh!

Memang, saya pun cukup sadar diri. Namanya juga paket BASIC (paket paling murah). Ya, ga bisa juga berharap terlalu muluk-muluk. Tapi, kalau nilai manfaat yang didapat tidak sebanding dengan nilai nominalnya, percuma juga dong.

Jaringan 3G-nya sendiri sampai saat ini dirasa kurang stabil, sering mati-nyala. Tanpa sinyal 3G, otomatis koneksi internet menjadi sangat lambat. Meskipun demikian, Telkomsel Flash masih cukup sangat membantu. Kalau-kalau lagi kepepet butuh koneksi internet, lumayan juga, walau leletnya minta ampun.

Hal lain yang saya nikmati dari penggunaan Telkomsel Flash ini adalah photo blogging. 🙂 Saya mulai menikmati fasilitas photo blogging yang disediakan oleh Sony Ericsson K810i. Just shoot and upload! 🙂 My photo blog is at http://entay.blogspot.com.

Hal lain yang saya rindukan dengan unlimited GPRS connection ini adalah akses Yahoo Go, Google Maps, Wikipedia, Yahoo Messenger, flickr, dan banyak lagi. Jadi, lupakan soal game. Kalau sudah memiliki unlimited GPRS connection di HP, mengisi waktu senggang tidak lagi maen game, tapi browsing. Reading some useful stuff from the internet.

Kesimpulan …

Blon bisa lepas dari Telkomspeedy, tapi sudah mulai agak bergantung juga dengan Telkomsel Flash-nya. Jadinya, dua-duanya deh. 😦 Ini artinya, extra expense setiap bulannya. 😦 Tapi masih berharap Telkomsel Flash bisa bertambah baik lagi kedepannya.

Forgetting Sarah Marshall

Poster: Forgetting Sarah MarshallJust like it’s tagline, Forgetting Sarah Marshall is a comedy about getting dumped, and taking it like a man.

Yup! cerita tentang seorang pria yang diputuskan oleh kekasihnya. Jadi hancur hatinya, childish, nangis-nangis, dan banyak hal konyol lainya. Agak hiperbolik memang, tapi beginilah yang terjadi kalau pria melankolis patah hati. 🙂 Banyak hal menjadi sangat sentimentil. Coba yang pernah patah hati inget-inget! Hal-hal kecil aja bisa bikin kepikiran. Bener khan? 😀

Jadi, buat yang lagi patah hati, film ini rasanya akan cukup menghibur. Atau untuk referensi tambahan, bisa juga coba film Everyday is Valentine. 🙂

For this movie, MPAA rated R for sexual content, language and some graphic nudity. Tapi, terlepas dari hal itu, film ini cukup menghibur. Rating 4 dari 5.

Hal lain yang cukup memorial dari film ini adalah, Sarah Marshall (Kristen Bell) yang eyecaching, dan Rachel Jansen (Mila Kunis) yang mirip dengan Aishwarya Rai.
Continue reading “Forgetting Sarah Marshall”

Balls of Fury

Poster: Balls of FuryBalls of Fury, komedi – parodi, tentang olah-raga ping-pong. Lucu (walau agak garing), dan cukup menghibur. Hanya saja pada bagian awal cerita, saya merasa alur ceritanya terlalu cepat. Sehingga, pada bagian awal merasa begitu banyak titik cerita yang terlewatkan. Rating 3.5 dari 5.

Mungkin kita tidak mengenal banyak tentang pemeran utamanya, Dan Fogler. Tapi, didukung beberapa pemeran yang cukup terkenal, seperti Christopher Walker, Maggie Q, Cary-Hiroyuki Tagawa, Jason Scott Lee dan banyak lagi. Ada juga cameo dari Masi Oka.

And Maggie Q, she sure does look sexy in this movie. 🙂 Maybe, it because of the outfit she wears during the movie. Padahal kalau inget terakhir terakhir nonton di-Three Kingdoms, she dress up like an odd villain.

Jika Anda menyaksikan film ini di-DVD, jangan lewatkan juga untuk menyaksikan beberapa bonus features. They are quite interesting. 🙂

The Happening

Poster: The HappeningSaya cukup nge-fans M. Night Shyamalan. Dalam film-filmnya, kadang ia memberikan twisted ending diakhir cerita. Seperti halnya difilm The Sixth Sense, dan The Villager, ia selalu membuat akhir cerita yang tak terduga. Tapi untuk The Happening, 😦 mungkin saya harus bilang sangat mengecewakan (maaf). Rating 1 dari 5.

Cerita tentang keanehan, yang membuat orang-orang tiba-tiba melakukan bunuh diri masal. Sebab musababnya, chemical plan. That’s it! Dari awal sampe belakang, cuma running away. Ga nyampe klimaks cerita, udah keburu udahan. Tambah lagi, endingnya nanggung.

Pemerannya sih ga tanggung-tanggung, Mark Wahlberg. Tapi, tetep aja, ceritanya membosankan. Plotnya datar-datar, alur ceritanya pun lempeng, sama sekali ga ada greget-gregetnya. Pokoknya, nyesel deh, nonton film ini. 😦