Cinta Tak Harus Memiliki

“Cinta tak harus memiliki”
Kalimat tersebut sangat klise rasanya terdengar. Tapi bagi yg pernah merasakannya, itu berarti sangat dalam. Ingin tahu apa saja di dalamnya?
Disana terdapat ketulusan, keikhlasan, pembelajaran, pendewasaan, dan arti cinta sejati sesungguhnya.

Saat kita dipertemukan dengan perasaan yang namanya CINTA, dan dgn mudah itu dimiliki, mungkin rasanya akan menjadi biasa.
Namun ketika cinta itu sulit dimiliki, ingat, itu bukan berarti Sang Cupid salah melepaskan anak panah cintanya.
Anak panah yg dilepaskannya itu tidak memilih siapa, apa, bagaimana, yang normal bahkan tak masuk akal. Dia hanya menjalankan tugasnya dan tidak bertanggung jawab setelahnya.
Misteri… Ya.. Cinta adalah misteri. Tapi semua manusia mutlak memilikinya.
Sejak kita belum mengenal dunia ini, sudah ditetapkan pemberian cinta untuk kita masing-masing. Siapa, kapan, dimana, bagaimana, dan berapa kali kita menemukan cinta dalam satu kesempatan hidup di dunia.

Saat kita sudah dipasangkan dgn pasangan hidup lalu dipersatukan dgn satu ikatan suci. Dan ketika itu pula Sang Cupid melepaskan anak panahnya kembali, hati-hati!
Jangan terlalu merasakan cinta yang dianggap luar biasa. Hadirnya perlu kita pandangi, cermati, pelajari seberapa dalam tancapan anak panah itu mengenai kita.
Tak perlu terburu-buru melampiaskan semua perasaan, tak perlu buru-buru mengorbankan hal yang masih layak kau pertahankan.

Sudah cukup tenang jika cinta itu berbalas, meski pertemuannya hanya dalam terowongan yang kita buat. Yang dimana kita bisa saling mencurahkan segala perasaan, merasakan kehangatan dalam pelukan, merasa nyaman dalam dekapan, meski itu hanya terjadi beberapa saat, lalu kemudian kita keluar dari terowongan kembali ke pemilik kita masing-masing.

Dari situ kita bisa dapatkan arti ketulusan, dimana kita bisa berikan cinta dan kasih sayang, dengan tidak menuntut untuk memiliki cinta itu sepenuhnya, tidak meminta satu apapun darinya kecuali balasan cinta yang sederhana.
Lalu keikhlasan. Saat kita membiarkan dia kembali ke pelukan pada tempat yang layak, jangan pernah merasa kalah dan terbuang. Sadari bahwa itu tempat dia sebenarnya, meski mungkin pelukan kita bisa jadi lebih hangat.
Kemudian pembelajaran. Saat kita mengetahui bahwa dia sangat mencintai apa yang telah dimilikinya, dan kita belum bisa seperti dia. Jangan cemburu. Dari situ kita bisa belajar bagaimana mencintai dan menjaga sesuatu yang sudah kita miliki sebelumnya.
Selanjutnya dengan begitu akan menumbuhkan kedewasaan untuk kita. Dimana kita bisa menjaga perasaan orang sekeliling kita, menyayangi dengan selayaknya, tidak membiarkannya kecewa, apalagi meninggalkannya hanya karena ambisi ingin memiliki satu cinta baru.

Sejatinya cinta mengajarkan kesabaran, ketulusan, keikhlasan, menjadikan dewasa. Cinta selalu menumbuhkan kebahagiaan meski tak bisa digenggam.

Jika cinta yg kau temui membuatmu bahagia, pertahankan, terus rangkai sampai menjadi besar, tumbuh, dan selalu bersemi.

Cinta semacam ini bukan kesalahan atau dosa yang indah. Ingat, cinta tak pernah salah, tidak untuk dipersalahkan dan tidak juga untuk menyalahkan.
Nikmati saja yang indah ini dalam hati. Ada cinta yang harus dijalani dalam nyata, juga ada cinta yang dirasakan oleh hati dalam mimpi.
Percaya, bahwa mimpi pun satu saat akan bisa menjadi nyata.

Cinta memang banyak bentuknya, dan ini salah satunya “cinta yang tidak harus memiliki”.

(E.L.)

Iklan

Hukuman Mati, Setuju? Tidak Setuju?

Sekali lagi saya tidak mempertanyakan kedaulatan perhukuman di Indonesia untuk melawan narkoba, tetapi saya tidak bisa melihat seseorang yang mengaku tidak bersalah, akan dihukum mati, dan melihat kesedihan istri dan keluarganya.

(Kutipan Surat Terbuka Anggun C. Sasmin terkait hukuman mati Serge Atlaoui.)

Serge adalah warga negara Prancis yang didakwa hukuman mati atas kasus operasi penggerebekan pabrik ekstasi dan sabu di Cikande, Tangerang, 11 November 2005. Barang bukti dari penangkapan Serge adalah 138,6 kilogram sabu, 290 kilogram ketamine, dan 316 drum prekusor atau bahan campuran narkotika.

Kutipan dari Tolak Hukuman Mati, Anggun Tulis Surat Terbuka untuk Jokowi.

Dulu saya berpikir: siapakah manusia? kok bisa berhak mencabut nyawa orang lain dengan atas nama hukum. Tapi menyimak kontroversi seru Surat Terbuka Anggun C. Sasmin yang menyatakan keberatannya terhadap pelaksanaan hukuman mati kepada terdakwa hukuman mati untuk pembuatan obat terlarang, membuat saya memikirkan kembali apa yang saya pikir soal pelaksanaan hukuman mati.

Seorang polisi yang berhadapan dengan penjahat, jikalau penjahat yang ia kejar itu menyerang dia atau membahayakan nyawa dia atau orang lain, maka polisi itu boleh melumpuhkan penjahat itu. Jikalau dalam tindakan polisi itu melumpuhkan penjahat itu menyebabkan kematian, maka polisi itu tidak bersalah untuk pembunuhan (tentunya ada aturan hukum yang ketat yang mengatur hal ini).

Menurut saya, logika serupa pun dapat diterapkan pada pelaksanaan hukuman mati pada pengedar dan pembuat obat terlarang. Apa yang mereka lakukan, adalah sesuatu yang bukan saja menyebabkan kematian, tapi juga merusak lingkungan sosial konsumennya, lebih luas lagi, merusak generasi muda. Jadi, kalau sampai Anggun mengemukakan pernyataan: “…saya tidak bisa melihat seseorang yang mengaku tidak bersalah, akan dihukum mati, dan melihat kesedihan istri dan keluarganya.” Harusnya dia juga mempertimbangkan kesedihaan setiap ibu dan bapak dari anak-anak yang terjerat nakotika bahkan mati, akibat produk yang dihasilkan oleh Serge.

Kita tidak melihat langsung Serge membunuh orang, tapi dengan ia dengan sengaja membuat produk yang merusak dan bahkan membunuh orang yang memakainya, itu sama dengan ia melakukan sesuatu yang sengaja, membuat orang lain mati.

Jadi, inilah yang saya percaya. Saya setuju pelaksanaan hukuman mati bagi para pengedar narkotik.