Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. ( 1 Petrus 5:8)

Iklan

Insidious: Chapter 2

Horror bukanlah genre film favorit gw. Tapi berhubung acara nobar, suara terbanyak pilihannya ke Insidious 2. Terpaksa, deh ikut. Sekalian ngetest diri. Dan setelah 1 jam 45 menit … kesimpulannya tetap, horror is not my movie genre. why?

Because, I don’t like movie with unhappy ending.

Gw mengganggap diri sebagai moviegoer (at least by my own term, I am). Film bagus itu adalah film yang meninggalkan kesan “wah” yang dalam benak, dan ada nilai bijak yang menjadi pelajaran. Tapi kalau horror… yang ada orang diterror, sepanjang film, pada akhirnya tetap tragis juga.

Hampir semua tipikal film horor seperti demikain. Sepanjang film, tokoh utama di terror, dan sang produser pun merancang sedemikian rupa supaya penonton merasakan teror yang sama. Dan, setelah sekian jam, penonton ikut bertegang-tegang, biasaya pada akhirnya sang tokoh pun toh akhirnya mati juga atau berakhir dengan tragis. Jadi, pas film berakhir, kesan yang dibawa saat selesai nonton adalah tragedi, unhappy. Apakah itu adalah sesuatu yang kenangan yang bisa dinikmati? Tidak untuk saya.

Jadi kesimpulannya adalah … don’t like horror movie.

Puisi Valentine?

happy valentinePada hari valentine, banyak orang berusaha mengungkapkan perasaan sayangnya dengan cara yang istimewa. Beberapa ada yang memberikan hadiah sekotak cokelat, seikat bunga, atau bahkan ada beberapa teman datang, meminta saya membuatkan mereka puisi.

Puisi?!? … saya sendiri bingung. Kalaupun saya bisa membuat puisi yang sangat indah sekalipun, apakah itu bisa akan menjadi istimewa?

Dipikir …
pikir …
pikir …

Cokelat hanya sebatas lidah,
Bunga hanya sebatas hari esok,
Dan puisi hanya sebatas kata.

Jadi, kepada teman itu saya cuma katakan:

Saya rasa, menyatakan cinta tidak serumit itu.
Kalau kau sungguh-sungguh dengan tulus mencintainya, cukuplah jujur kepadanya.

Lalu …

Pandang dia, hingga ia percaya bahwa kau sungguh-sungguh mengagumi dia

Genggam tangannya dengan lebut, hingga percaya bahwa kau sungguh-sungguh mengasihinya

Peluk erat, hingga ia percaya bahwa kau sungguh-sungguh tak ingin kehilangan dia

Berikan kecupan kecil dikeningnya, hingga ia percaya bahwa kau sungguh-sungguh menghormatinya

Dan dari telinga kirinya, dengan lembut coba membisikan: “sayang, aku sayang kamu. Happy Valentine”, hingga ia percaya bahwa kau sungguh-sungguh menyayanginya.