“Gimana rasanya pacaran?”

Saat aku awal aku memiliki seorang kekasih, orang bertanya: duh, dah punya cewe yah sekarang… gimana rasanya?

Rasanya seperti: Naik gunung!

Susah payah mendaki
Sampai dipuncak: hah… akhirnya.
Dari atas memang dunia tampak lebih indah.
Tapi disaat yang sama,
ia juga melihat masih banyak puncak gunung yang lebih tinggi,
betapa kecilnya gunung tempat ia berpijak pada saat ini.

Apakah cukup aku mendirikan rumahku diatas digunung ini?
Atau bolehkah aku mendaki gunung itu?
yang lebih tinggi,
yang lebih indah.

Salah satu hal penting yang aku coba belajar adalah berkata cukup.
Menyadari, pencarian akan yang terbaik adalah pencarian yang tiada akhir.
Karena, akan selalu ada yang lebih baik.

Kamu dimana?

Orang bilang: cinta itu tidak harus saling memiliki … 😦

OK lah! anggap saja itu benar.
Tapi, dimanakah kamu saat aku membutuhkanmu?
(walau hanya sebagai teman)

Sebagai teman … akan selalu ada pagar yang lebih tinggi,
sehingga kita tidak lagi bisa seperti dulu. 😦

andai saja… andai saja…
aku boleh memiliki.

Mata Ketiga

Sudah berapa lama kita tidak bertemu?!? Setahun … dua tahun … tiga tahun … ah ….! Ya! 3 tahun. Waktu itu, aku ingat kau masih mengenakan seragam putih abu. Didepan lab, waktu jam istirahat. Pertemuan singkat, perkenalan singkat, percapakan singkat. Mungkin kau tidak tahu, betapa hal itu begitu berarti buatku. Tapi, apakah kau masih mengingat aku? Ah… jangan-jangan, namaku pun kau tak ingat.

Tadi, sesekali kita beradu pandang. Aku masih sama seperti dulu. Selalu grogi. Jadi, maafkanlah kalau tadi aku “pura-pura tidak kenal”. Aku malu! takut kalau kalau-kalau kau memang sudah benar-benar melupakanku. Lagi pula, tidak enak rasanya kepada teman priamu.

Padahal … malam tadi, kau berdandan begitu cantik. Ingin memandangimu, tapi rasanya itu tidak sopan. Andai saja … aku punya mata ke-3, sehingga aku bisa terus memandangimu. Bukan karena nafsu. Tapi, … aku benar-benar merindukanmu.

Ah, semoga saja … suatu kali kelak. Aku akan bisa memandangimu tanpa harus sembunyi-sembunyi. Karena saat itu, kau mengenaliku dengan namaku.