“Persib nu aing”, tapi maaf…

“Persib nu aing”, tapi maaf … saya tidak suka kalau Persib menang.

Karena kemenangannya adalah pameran euphoria bobotoh yang brutal dan memalukan yang merubah jalanan kota Bandung menjadi kacau.

Kalau musim pertandingan depan, masih seperti ini,

saya ngeri kalau Persib menang.

saya malu kalau Persib menang.

#persibday#persibday

Iklan

Kisah Nuh. Air Bah Lokal atau Global?

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini. Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi. Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu.” Lalu Nuh melakukan segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya. Nuh berumur enam ratus tahun, ketika air bah datang meliputi bumi. Masuklah Nuh ke dalam bahtera itu bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya karena air bah itu. Dari binatang yang tidak haram dan yang haram, dari burung-burung dan dari segala yang merayap di muka bumi, datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, jantan dan betina, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh. Setelah tujuh hari datanglah air bah meliputi bumi. (Kej 7:1-10)

ships (1)Memang cukup menarik menyimak kisah tentang Nuh dan banjir besar (air bah). Suatu kisah yang ditemukan kisahnya pada agama Kristen, Islam, dan Yahudi. Walaupun masing-masing agama memiliki detail yang berbeda, tapi secara umum semuanya sama. Tuhan menghukum manusia dengan air bah.  Banjir besar menutupi bumi, hanya 8 orang yang selamat beserta binatang-binatang yang ada di dalam bahtera. Namun, ada pikiran-pikiran kecil yang mengganggu, dan memunculkan kemungkinan lain penurut pemikiran saya. Saya percaya, banjir yang diceritakan pada Kejadian 7 itu adalah banjir lokal. Sejak dahulu saya kecil saya selalu berpikir bahwa air bah menutupi seluruh bumi. Tapi, jika demikian maka beberapa pertanyaan berikut muncul:

Bagaimana mungkin seluruh binatang masuk kedalam bahtera? Yang saya bicarakan adalah binatang-binatang dari seluruh dunia, Walau kapal Nuh adalah kapal yang besar, (130 meter panjang) tapi untuk menampung seluruh binatang dari seluruh dunia … rasanya tidak mungkin (walau memang beberapa orang ada yang berpendapat ini bisa).

Bagaimana menjelaskan distribusi binatang ke tempat-tempat yang melintasi samudera? Saya membayangkan setelah air bah surut, hewan-hewan seperti beruang kutub, pinguin, melakukan migrasi panjang ke habitatnya di kutub. Bagaimana juga ada komodo yang bisa sampai ke pulau komodo. Berenangkah? Bagaimana kanguru bisa berada di benua Australia? Rasanya tidak mungkin. Segala sesuatu mungkin bagi Allah. Jikalau memang Tuhan menghendaki hewan-hewan melakukan migrasi panjang ke tempat-tempat terpencil, melintasi samudra … pasti bisa. Namun, untuk saat ini saya percaya bahwa banjir yang diceritakan di kitab kejadian adalah banjir lokal.

Masalah salinitas air. Jika seluruh bumi menjadi lautan, bagaimana ikan air tawar bisa bertahan. Atau jika terjadi sebaliknya (air bertambah, salinitas air berkurang, air menjadi tawar) bagaimana ikan laut bisa bertahan?

Saat ditulis, air bah meliputi bumibumi dalam pengertian orang pada zaman perjanjian lama adalah wilayah yang sebatas mereka ketahui. Seluruh umat manusia mati (kecuali 8 orang), karena saya percaya penyebaran manusia pada zaman itu belumlah mencapai seluruh bumi. Dengan demikian, banjir lokal pun cukup untuk menghapuskan seluruh umat manusia.

Ada beberapa argumen pro dan kontra mengenai hal ini. Walau saya percaya bahwa air bah yang diceritakan pada Kejadian adalah peristiwa banjir lokal, tetap ada hal-hal yang tidak bisa dijelaska dengan tuntas. Apa yang saya tulis ini, hanya pendapat saya pribadi. Saya sendiri tidak terlalu mementingkan apakah ini adalah banjir lokal atau pun global. Kitab Kejadian ditulis untuk mengajar kepada bangsa Israel mengenai asal-usul mereka, memperkenalkan Allah yang mengeluarkan mereka dari tanah Mesir, bukan literatur ilmiah. Ada banyak hal yang Alkitab tidak nyatakan, tidak perlu juga terlalu diperdebatkan terlalu panjang. Allah menciptakan langit dan bumi. Tidak ada hal yang mustahil bagi Dia.

Air bah hanyalah bagian dari penuturan asal usul manusia yang dinyatakan kitab Kejadian, bahwa manusia diciptakan mulia, tapi manusia telah berdosa dan menjadi musuh Allah. Meskipun demikian, Ia tetap memberikan anugerah-Nya, Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menanggung hukuman manusia akibat dosa, sehingga melalui Dia, manusia memperoleh jalan untuk diselamatkan. Selama perbedaan pendapat mengenai banjir lokal atau global tidak mempengaruhi pengertian kita tentang itu … no need to argue too much about it.

RAN – Dekat di Hati

It’s a song that got stuck in my head

RAN – Dekat di Hati

Dering teleponku membuatku tersenyum di pagi hari
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini
Tawa candamu menghibur saatku sendiri

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

Dering teleponku membuatku tersenyum di pagi hari
Tawa candamu menghibur saatku sendiri

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun kau dekat di hati

Jarak dan waktu takkan berarti
Karena kau akan selalu di hati
Bagai detak jantung yang kubawa kemanapun kupergi

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
dekat di hati
dekat di hati

 

 

“If you’d known this was going to happen, would you have done it?”


City of Angels (1998), this generation might not know much about this movie.. It’s a romatic drama about an angel, Seth (Nicholas Cage) who fall in love to a woman, Maggie (Meg Ryan). And to be with the woman he love, he gave up eternity to live as a mortal with her.

After he became a mortal, they fall in love with each other, but tragicly, their happiness is not for long. Maggie die in an accident.

Knowing that, Seth’s friend, an angel ask him:

If you’d known this was going to happen… would you have done it?

Seth replied:

I would rather have had…
…one breath of her hair…
…one kiss of her mouth…
…one touch of her hand…
…than an eternity without it.
One.

I know, logicly in real life, it’s wrong! But, romantic … yes.

The idea is… If you met someone that makes you happy, but in the end, you found that you can’t be together and that gives you a great grieves. If you have a chance go back in time. Will you avoid of meeting her? Will you avoid falling in love on her so that you wouldn’t get hurt?

If I do, I would go back in time, meet her, and love her more. I’ll make every seconds count.